Eko Prawoto, Romo Mangun, dan Lokalitas





Eko Prawoto adalah arsitek yang banyak berhubungan dengan Romo Mangun, sehingga banyak orang menyebut sebagai “murid” nya. Eko Prawoto arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan di The Berlage Institute Amsterdam, Belanda. Dia mengajar sebagai dosen di Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.

Arsitektur, menurut Eko Prawoto, seharusnya tidak memisahkan diri dari ekosistem. Ia harus menjadi bagian integral dari alam sekitarnya karena rumah bukan entitas otonom. Sedangkan inti dari desain arsitektur ada dua hal, sebagai produk engineering atau juga produk budaya. Itu tergantung pada paradigmanya.

Yang dia lakukan dalam desain – desainnya adalah sangat sederhana, yaitu agar arsitektur kita tidak terlepas dari akar budayanya. Tapi juga bukan berarti hanya sekadar memoles dan mengambil dari masa lalu. Harus ada kompromi, menjadi modern, tapi masih tertancap pada akarnya. Metodenya adalah nilai – nilai lokal yang masih bisa diambil ( Kompas , 5 November 2006)

Dalam beberapa tahun terakhir dia semakin sadar untuk mencari metode dengan mengartikulasikan lokalitas. Sementara ini, dia maknai dari ruangnya, makna ruang memperkuat untuk komunitas. Dalam arti arsitektur tidak seharusnya memisah dari kesatuan ekosistem. Jadi ada kontinuitas dengan sekitarnya. Secara lebih spesifik, arti lokalitas menurut Eko adalah dengan menjaga teknik membangun dan pengolahan material lokal, tapi dengan cara baru. Justru hal yang manual dan kesannya low technology, menurut dia adalah keunikan tersendiri.

Eko bersinggungan dengan Romo Mangun lebih dari 20 tahun. Pada beberapa proyek, dia juga membantu Romo Mangun. Yang paling didapat Eko dari Romo Mangun adlah aspek tektonika, kepekaan bagaimana teknik menyambung, mempertemukan bahan, dan mengartikan sambungan, bagaimana memahami kodrat dan bakat dari bahan, kreativitasnya, juga pada keberanian untuk berbeda, dan mencari dari dalam. Melihat persoalan dari persoalan itu sendiri, tidak risau dengan sekitar. Tidak tentang kulit tapi dari spirit. Menurut dia, pada akhirnya arsitektur harus memerdekakan manusia.

Eko juga mengaku terpengaruh pemikiran Romo Mangun soal pemakaian material bekas. Menurut Romo Mangun, arsitektur harus konstektual. Sekarang ini banyak orang membutuhkan pekerjaan. Oleh karena itu, dalam satu proses pembangunan rumah, misalnya, sebanyak – banyaknya budget digunakan untuk upah. Bahan boleh murah, tetapi tenaga kerja harus dihargai mahal. Dia mengutip ajaran Romo Mangun yang mengatakan bahwa investasi harus pada sumber daya manusia. Ciri khas Eko misalnya dengan menyusun rapi pecahan keramik di antara ubin bermotif. Dia juga menggunakan besi yang dia bentuk khas, untuk menyangga kayu yang betemu dengan tembok pada beberapa karyanya.

lanjut via meeftah

5 comment:

Andik at: 6 November 2007 19.10 mengatakan...

love this post.. :D. hmm...jadi pengen ketemu mas Eko.bero, atur2 dong buat ketemu mas Eko. ntar ane ke jogja deh sekalian maen... sep..sep..

Stella at: 2 Desember 2007 09.55 mengatakan...

saya juga setuju dengan arsitektur yg selalu bisa beradaptasi dgn lingkunganya. baik dgn teknologi maupun dgn material yg ada,jadi konsep "form follow function" masih tetap eksist...

wahyu wicaksono at: 9 Desember 2008 16.16 mengatakan...

halo pak Eko...pa kbrnya pak???saya salah satu anak didik bpk di duta wacana angkt 99, klo blh blg beliau ini sangat konsen dengan lokalitas,krn ampe skrg sms beliau tentang lokalitas ke saya masih ada tersimpan di hp saya. waktu itu saya konsul skripsi ttg Bledug Kuwu..pokoke pak Eko top lah..

PUTRA SIMATUPANG at: 24 Januari 2012 23.50 mengatakan...

Bangga jadi Murid Pak Eko,

Zorg at: 30 April 2012 15.29 mengatakan...

alhamdulillah pagi ini bisa jalan-jalan melihat proyek baru Pak Eko di Plurugan, Yogya. Foto-fotonya bisa dilihat di www.ideaonline.co.id tanggal 1 Mei 2012. Salam kenal :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"sorry this web under maintenance"