Sekali lagi soal tetangga


Sebagai sebuah media arsitektur, arsitekturina mencoba sekuat tenaga dan upaya untuk tetap obyektif :) dan membahas isu dalam ranah arsitektur walaupun arsitektur memang berkaitan dengan hal – hal lain. Sebagai warga NKRI, saya dan Saykoji masih saja geleng – geleng kepala dengan ulah tetangga satu ini. Tetangga kita yang satu ini benar – benar beda dengan tetangga kita yang lain. Ada ada saja ulahnya, apakah benar kata media yang pernah saya baca, mereka sedang bingung mencari identitas budaya? Bingung mempromosikan pariwisatanya yang masih saja kalah disbanding , taruhlah, sepotong Indonesia bernama Bali yang tanpa koar- koar “truly Indonesia” misalnya, tetap saja turis manca ga habis – habis mampir ke Bali. Itu baru Bali, kawan ! We still have Jogja, Bandung, Toraja, Nias, Papua, Bunaken, Maluku, Komodo island..u name it..hehe. memang Indonesia kagak ada matinye bos..;) apakah benar kata sobat kita Saykoji : “ apa kalian yang ga mampu2, bikin budaya sendiri efek ga ampuh2” :P

Dalam arsitektur, setahu saya, istilah “inspired by” memang lintas geografis dan lintas zaman. Misalnya, sebut saja Cedric Price menginsiprasi Richard Rogers ,Rem Koolhaas, sampai Rachel Whiteread. Namun, menurut pendapat sahabat – sahabat kita, masalahnya akan berbeda apabila digunakan dalam promosi yang tentu berimbas pada perekonomian mereka. Berdasarkan diskusi dengan bang Andik, arsitektur Nusantara adalah (dapat dikatakan) arsitektur atap. Jadi, bentukan seperti paviliun tetangga ini jelaslah inspired by Minangkabau. Pun dalam video resminya, si tetangga menyebutkan dengan jelas bahwa inspirasinya adalah rumah Gadang. Dalam hemat saya yang berilmu pas – pasan ini, tidak etis dan terasa malu bila memakai ciri negara lain untuk hal – hal menyangkut representasi negara kita. Mungkin ini masalah “dignity”. Apalagi untuk sebuah even dunia sekelas World Expo.Hehehe. Wallahu a’lam ..

Tentang etnis Minangkabau, menurut kitab babon Wikipedia, etnis Minangkabau adalah pejuang kehidupan tulen. Berdiaspora dengan gagah berani ke seluruh dunia dengan tajuk “merantau”. Bahkan orang Minangkabau juga berkontribusi besar di Malaysia dan Singapura, antara lain Tuanku Abdul Rahman (Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia), Yusof bin Ishak (presiden pertama Singapura), Zubir Said (komposer lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura), Rais Yatim, Tan Sri Abdul Samad Idris dan Adnan bin Saidi. Di negeri Belanda, Roestam Effendi yang mewakili Partai Komunis Belanda, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah duduk sebagai anggota parlemen. Jadi, memang hal seperti ini memusingkan kepala saya, maka dari itu marilah kita memutar video bang Igor aka Saykoji. tarik maang..



Untuk mengikuti diskusi yang riuh rendah di archdaily, klik disini. Thanks to archdaily for the pic. Klik Minangkabau di wikipedia untuk belajar lanjut tentang Minangkabau.

0 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"sorry this web under maintenance"