Tampilan interior museum yang diisi kursi-kursi artistik.
Tampak dinding kontainer menjadi latar dari ruang dalam yang lapang.

Saya berasumsi banyak yang sudah paham tentang Nomadic Museum karya Shigeru Ban. Konstruksinya dibangun dari tatanan kontainer-kontainer yang dibentuk sebagai selubung dari dunia luar, dengan kolom-kolom bundar yang cantik dari bahan kertas karton. Ya, material yang eksperimental terutama kertas telah menjadi ciri khas dari arsitektur Ban. Didalamnya tersimpan satu ide tentang arsitektur berkelanjutan. Sustainability, isu yang sedang mengemuka sekarang ini. Nomadic Museum ini menjadi salah satu wadah dari Singapore Biennale tahun ini, yang sayangnya berakhir dua minggu lalu. (Ya, berita ini memang terlambat dikabarkan.) Museum ini sebelumnya telah sempat beredar ke New York, Santa Monica, Vatikan!, dan Tokyo. Dan Singapura beruntung menjadi salah satu tempat persinggahannya.

Tidak berpanjang lebar, nikmati sekelumit foto-foto dari gelanggang gelaran biennale ini.


Salah satu instalasi seni di dalam museum ini.


Ruang dalam ruang, dalam naungan kontainer ada ruang bagian dari instalasi seni.


Cahaya, elemen alam yang memberi jiwa pada arsitektur.


Ruang yang tenang. Jalur yang sederhana. Putih. Sederhana. Tenang.


Secara keseluruhan, bangunan museum ini menerangkan keahlian arsitek Jepang untuk membawa kelokalan mereka mendunia. Terlepas dari konteks tempat yang nyata berada di Singapura, konteks "Japan-ness" yang diterjemahkan dalam ranah kontemporer oleh Ban sangat terasa. Ada nuansa zen di ruang-ruangnya. Ada kesederhanaan yang kompleks dalam aura yang dituangkan. Arsitektur memang menggerakkan hati. Selayaknya arsitektur mampu berbuat begitu.

P.S: Kapan museum ini akan singgah di Pantai Karnaval Ancol ya?

0 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"sorry this web under maintenance"